Wisata Budaya di Kota Multietnis Singkawang

Bisnis



Kota yang terletak di sebelah utara Kalimantan Barat ini mengajak kita untuk melihat bagaimana hidup bersama dalam perbedaan. Masyarakat Tionghoa, Dayak, Melayu, Bugis, Jawa, Batak, Minang, dan lainnya mendiami Kota Singkawang. Sobat Genpi, Pada tahun 2018, Singkawang dinobatkan menjadi kota toleran nomor satu di Indonesia. Nah, apa aja sih wisata budaya yang ada di kota yang sering dijuluki Hongkongnya Indonesia ini? Mari kita intip!

Kelenteng Tri Dharma Bumi Raya
Kelenteng yang menjadi ikon Kota Singkawang ini telah berdiri tepatnya sejak tahun 1878. Kelenteng Tri Dharma Bumi Raya diyakini sebagai tempat peribadatan umat Tri Dharma tertua di Singkawang. Tiap Imlek dan Cap Go Meh, kelenteng ini ramai didatangi ribuan orang.

Sobat Genpi, banyak filosofi dalam bangunan kelenteng ini, salah satunya yaitu pada sisi kanan kuil terdapat taman dengan lukisan mengenai kehidupan masyarakat Tionghoa yang mencerminkan kedamaian, keamanan, dan kesejahteraan. Oiya Sobat, Singkawang juga akrab disapa sebagai Kota Seribu Kelenteng.

Masjid Raya Singkawang
Terletak 200 meter dari Kelenteng Tri Dharma Bumi Raya, masjid ini mengalami sejarah panjang dibangun pada tahun 1885. Masjid dan kelenteng yang berdekatan itu menunjukkan bentuk toleransi agama yang begitu kental di Singkawang. Sobat Genpi, masjid ini pernah terbakar dan kemudian didirikan kembali.

Rumah Keluarga Tjhia
Tempat bersejarah yang dibangun pada 1902 ini merupakan bangunan cagar budaya. Rumah keluarga ini dimiliki oleh seorang pendatang dari Fujian bernama Tjhia yang merupakan pengusaha sukses. Rumah Keluarga Tjhia memiliki perpaduan gaya China dan Eropa.

Rumah Melayu Balai Serumpun
Bangunan ini biasanya digunakan untuk kegiatan-kegiatan kemasyarakatan seperti pernikahan, pertemuan, tempat pembinaan kesenian dan kebudayaan. Selain itu, di sini Sobat bisa memperkaya pengetahuan mengenai adat Melayu, lho!

Sobat Genpi, selain mengunjungi bangunan-bangunan tadi, kita bisa menyaksikan festival dan pertunjukan yang digelar di Kota Singkawang.

Cap Go Meh
Festival ini rutin diadakan tiap tahun tiap 15 hari pasca Imlek. Orang-orang dari berbagai etnis pun mengikuti tradisi yang merupakan perekat persaudaraan ini. Atraksi Tatung adalah yang paling ditunggu saat perayaan Cap Go Meh.

Para Tatung mempertunjukkan kekebalan tubuh dengan meminum arak, mengijak pecahan kaca, menginjak bagian tajam pada pedang, dan mencapkan kawat yang runcing dari pipi kanan hingga tembus ke pipi kiri. Menariknya, mereka tidak tergores maupun terluka. Tatung merupakan pembauran kepercayaan Tao dan kepercayaan lokal di Singkawang.

Festival Lampion
Lampion dan dekorasi Imlek di Singkawang berkali-kali memecahkan rekor Muri. Pada tahun 2009 ada 10.895 lampion dinyalakan, dan pada 2018 ada 20.607 lampion, Sobat!

Wah, tidak ada salahnya kita berkunjung ke sebuah kota sambil menyelami budaya-budayanya. Dari Kota Singkawang kita pun belajar bagaimana hidup bersama di tengah perbedaan. Yuk, ke Singkawang!

(Ditulis oleh Lena Sutanti, Antropologi Sosial, Universitas Diponegoro, Program Internship Genpinas tahun 2020)

Referensi:
https://pariwisata.singkawangkota.go.id
https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/vihara-tri-dharma-bumi-raya-ikon-kota-singkawang
https://youtu.be/KZ_CWsWz9sg



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *