Meniti Gereja Tua dan Lukisan Kulit Kayu di Pulau Asei Papua

Bisnis



Pesona di tengah Danau Sentani itu bernama Pulau Asei. Pulau Asei bukan pulau yang luas, bahkan untuk mengelilinginya mungkin hanya memerlukan waktu satu jam saja. Namun untuk menelusuri mengenai sejarah, budaya, dan masyarakatnya butuh waktu yang tak sebentar. Alias, pulau ini sangat kaya akan sejarah.

Perahu-perahu berlalu lalang mengitari Danau Sentani yang dikepung Pegunungan Cycloop. Sobat Genpi, untuk dapat menjejakkan kaki Pulau Asei, kita perlu menaiki perahu kira-kira 20 menit dari tepian Danau Sentani. Kedatangan di Pulau Asei disambut dengan salib besar yang menandai masuknya Injil di sini.

Gereja Tua Asei
Gereja yang dulunya dikenal sebagai Gereja Philadelphia ini terletak di Pulau Asei. Pada 1 Juli 1928, agama Kristen mulai masuk Pulau Asei. Untuk memperingati masuknya agama Kristen di Pulau Asei dibangunlah tugu, dan kemudian tanggal tersebut dijadikan sebagai hari besar bagi jemaat Gereja Asei.

Gereja Asei sendiri didirikan di kaki bukit pada tahun 1930-an dengan bangunan yang cukup sederhana. Dinding-dinding gereja terbuat dari gaba-gaba atau pelepah sagu dengan atap rumbia. Sayang sekali, pada tahun 1944 gereja hancur akibat pertempuran Jepang dan sekutu. Waktu itu, Pulau Asei yang termasuk wilayah pergerakan Jepang, atau lintasan merah itu dihancurkan. Bangunan hancur dan para penduduk harus mengungsi ke daerah lain.

Sobat Genpi, Ketika perang dunia kedua telah usai, penduduk kembali gotong royong membangun Gereja Asei. Masyarakat mendirikan Gereja Asei di puncak bukit Pulau Asei. Desain dari gereja dipercayakan kepada Wolfram Wodong. Pengaruh dari arsitektur Jerman terlihat pada bentuk jendela yang besar dengan motif kotak.

Gereja ini begitu unik dengan atap mirip masjid-masjid di Jawa. Dari halaman gereja kita dapat menyaksikan pemandangan Danau Sentani yang luar biasa memesona.

Lukisan Kulit Kayu
Karya orang Sentani ini sudah ada sejak nenek moyang dahulu. Lukisan kulit kayu atau biasa disebut Khombow hanya digunakan 3 kali saat hidup, yaitu saat bayi lahir, perempuan yang telah menikah, dan untuk membungkus jenazah. Motif-motif lukisan kulit kayu ini beragam, ada motif cicak, kadal, ular, ikan, kaki burung bangau, belut, kelelawar, tupai terbang, daun-daun, bunga hutan, dan spiral. Sekarang, lukisan kulit kayu dijadkan cinderamata khas Sentani.

Begitu banyak hal yang bisa kita telusuri di Pulau Asei di tengah Danau Sentani yang kaya akan budaya dan sejarah ini! Oiya Sobat, tiap tahun juga digelar Festival Danau Sentani yang dihadiri oleh wisatawan lokal maupun mancanegara. Wah, jadi tidak sabar untuk mengunjunginya!

Referensi:
https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/dpk/gereja-tua-asei/
https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/pulau-asei-harta-terpendam-di-danau-sentani
https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbpapua/khombow-lukisan-di-atas-kulit-kayu-orang-sentani/



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *