Film Parasite Lebih Dari Sebuah Karya Film Tentang Kelas Sosial

Bisnis

Stand applause seharian tanpa berhenti pun sebenarnya belum cukup mengapresiasi garapan sutradara Korea Selatan Bong Joon-ho. Bahkan lebih dari itu, film Parasite merupakan sebuah karya yang menyadarkan penonton tentang sudut-sudut tergelap kelas sosial sesat setelah kita menertawakan kemiskinan.

Banyak orang yang sudah bikin review Parasite, dalam tulisan ini saya akan mencoba membedah film ini biar kalian memahami betul mengapa Parasite layak dapat Oscar. Buat kalian yang beranggapan bahwa spoiler adalah dosa besar para pengulas, akan lebih baiknya kalian nonton dulu filmnya terus kesini lagi. Karena saya nggak ingin masuk neraka hanya karena ngebocorin plot film.

Sebagian orang yang hidup di tahun 2019-2020, sudah semacam jadi keharusan untuk membawa smartphone ke toilet. Begitu pun bagi keluarga Ki-taek (Song Kang-ho) di Parasite (2019). Namun, alasannya berbeda dengan orang yang mempunyai kelas menengah. Toilet merupakan tempat yang strategis di mana keluarga Ki-taek mendapatkan sinyal internet untuk smartphone mereka. Kata “keharusan” akan terasa lebih penting bagi keluarga Ki-taek, dibandingkan orang-orang yang membawa smartphone ke toilet hanya untuk sekedar membunuh rasa kebosanan.

Scene awal film Parasite dibuka dengan kaus kaki yang digantung setinggi plafon rumah. Bahkan di belakang kaus kaki itu terlihat jalanan, tempat banyak orang berlalu-lalang. Terlihat  betapa rendahnya posisi keluarga Ki-taek, secara geografis maupun sosial. Bahkan keluarga mereka bisa dibilang lebih rendah daripada air kencing di jalan. Ketika film menyorot perjalanan mereka menuju rumah yang melalui banyak tangga dan turunan tidaklah sulit bagi kita penonton untuk memahami kesenjangan antara si miskin dan si kaya, antara keluarga Ki-taek dan Mr. Park (Lee Sun-kyun).

Dari scene ini sudah nampak perbedaan kelas dalam Parasite hadir dalam garis vertical, topik yang sama sempat dijajal Bong Joon-ho dalam Snowpiercer (2013) secara horizontal. Cara ini tidak bisa dibilang baru. Titanic (1997), misalnya, melakukan hal serupa saat menggambarkan nasib penumpang di kapalnya. Sebelumnya, Ernest & Celestine (2012), yang meski tidak membicarakan tentang kelas, juga pernah memanfaatkan dunia “atas dan bawah” sebagai kisah segregasi sosial, yang di tiap kubunya dipenuhi oleh prasangka dan propaganda.

Pendahulunya boleh jadi sudah ada. Meskipun  begitu, ketimpangan yang Parasite gambarkan lewat garis vertikal adalah sesuatu yang khas. Pembagian kelas antara setelah“Atas” dan “bawah” dalam Parasite ada dalam dunia yang sifatnya sudah sering kita alami dalam keseharian. Keluarga Ki-taek tidak berada di kapal yang membedakan posisi mereka berdasarkan tiket; tidak juga mereka berada di dunia lain yang punya pembagian yang seakan dibuat-buat. Mereka berada di dunia kapitalistis yang system kehidupannya menekan mereka semakin ke bawah.

Untuk kelas social bawah, urusan ekonomi adalah urusan hidup dan mati; dan pertaruhan besar itu terkadang membuat kelas bawah terenggut kemanusiaannya. Gambar yang ditunjukkan dalam film Parasite, konflik ketimpangan dihadirkan langsung di satu tempat, yakni rumah Mr. Park. Pada scene tersebut, kalangan bawah hadir sebagai pekerja: Ki-taek menjadi sopir, Chung-sook (Jang Hye-jin) menjadi asisten rumah tangga; dan Ki-woo serta Ki-jung (Park So-dam) menjadi guru les. Lewat cara ini, Bong Joon-ho tidak hanya cerdas membangun cerita, tapi juga sadar akan persoalan koeksistensi manusia.

Merupakan langkah yang sangat tepat untuk menampilkan relasi kerja di wilayah privat. Wilayah privat adalah tempat terbaik untuk interaksi yang intens dan relasi kerja adalah fondasi terbaik untuk mengikat kalangan atas dan bawah. Dalam ruang seperti itu, yang dapat memberi pengaruh bukan hanya penampilan, melainkan juga perasaan dan penciuman. Di sinilah kemudian kepura-puraan yang begitu sempurna dapat terancam dan di sinilah kemudian bau menjadi penentu.

Sebagai karya yang gambarnya kuat, Parasite rasanya justru mengajak kita melihat hal-hal yang tak terlalu terlihat seperti bau, denyut nadi, hingga ruang bawah tanah. Dan ini bukan perkara metafor. Lewat metafor, kita memang dapat melampaui yang tampak. Kita, misalnya, bisa menganggap Indian, yang disukai oleh Da-song (Jung Hyeon-jun), sebagai metafor bahwa keluarganya sedang diinvasi oleh pendatang. Kemudian dialog pada scene tersebut tidak jelas dan tanpa akurasi yang berarti.

Bahkan mengenai metafor ini sebetulnya juga sedikit disinggung saat Ki-woo melihat gambar Da-song di dinding rumah. Dia mencoba untuk menunjukan keahliannya, Ki-woo mengatakan bahwa gambar Da-song, yang dianggapnya gambar monyet, sangat metaforis. Tapi Yeon-kyo, ibu Da-song, mengatakan bahwa gambar itu adalah self-portrait bukan monyet. Jelaslah bahwa tidak semua hal merupakan metafor. Lebih daripada itu, tersirat juga ini metafor sih bahwa manusia memang sepatutnya dilihat sebagai manusia, bukan hewan atau benda.

Dalam kehidupan nyata yang sering ditanamkan yakni “Melihat manusia sebagai manusia”, mungkin ini sudah terdengar klise. Tapi Parasite menunjukkan bahwa dilihat sebagai manusia adalah segalanya. Kepura-puraan keluarga Ki-taek hanyalah cara untuk dilihat sebagai manusia, sehingga kemampuan mereka bisa dianggap serius oleh orang lain. Ki-woo, Ki-jung, Chung-sook, dan Ki-taek tidak pernah mencemaskan kompetensi mereka—dalam berbahasa Inggris, mendidik anak artsy, menyetir mobil, dan memasak. Mereka hanya takut ketahuan miskin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *